Rabu, 04 Maret 2026
Kamis, 06 November 2025
Membanggakan sekolah, Kakak Beradik Sabet Juara 1 dan 2 Kompetisi Panjat Tebing Bupati Cup 2025 Pamekasan
PAMEKASAN – Sekolah Dasar Negeri (SDN) Palengaan Laok 1 kembali mengukir prestasi membanggakan di tingkat Kabupaten Pamekasan. Kali ini, sekolah yang berlokasi di Dusun Glugur, Palengaan Laok, ini berhasil mendominasi cabang olahraga panjat tebing dengan meraih Juara 1 dan Juara 2 dalam ajang Kompetisi Panjat Tebing Antar Pelajar se-Kabupaten Pamekasan "Bupati Cup 2025."
Kompetisi bergengsi yang diselenggarakan dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Pamekasan ke-495 ini, diadakan di Wall MAHAPALA Kampus UNIRA, Pamekasan, pada hari Minggu, 26 Oktober 2025. Keberhasilan ganda ini diraih oleh kakak beradik yang merupakan siswa terbaik di sekolah tersebut.
Ajang bergengsi tingkat pelajar tersebut diikuti oleh berbagai sekolah dari seluruh penjuru Kabupaten Pamekasan. SDN Palengaan Laok 1 mengirimkan dua wakil terbaiknya yang juga merupakan kakak beradik, yaitu Alisya Ashri Ramadhani, siswi kelas 5, dan Azmiya Alifah Ramadhani, siswi kelas 2. Keduanya tampil gemilang dan berhasil mengharumkan nama sekolah.
Alisya meraih Juara 1, sementara adiknya, Azmiya, sukses memperoleh Juara 2 dalam kategori panjat tebing kelompok usia U-13. Prestasi ini menjadi bukti bahwa potensi dan bakat siswa dapat berkembang melalui kegiatan ekstrakurikuler yang terarah dan didukung oleh sekolah.
Kepala SDN Palengaan Laok 1, Robiatul Adawiyah menyampaikan rasa bangga atas prestasi yang diraih siswanya.
“Ini adalah hasil dari kerja keras dan dedikasi seluruh warga sekolah,” ujarnya.
“Kami berharap prestasi ini menjadi motivasi bagi siswa lainnya untuk terus berprestasi baik di bidang akademik maupun non-akademik.” lanjutnya.
Ia juga menegaskan bahwa sekolah akan terus berupaya mencetak generasi yang unggul baik dalam bidang akademik dan non akademik serta berkarakter.
“Sekolah kami bertekad mencetak generasi yang berprestasi dan berkarakter,” pungkasnya.
Lebih lanjut, ia berharap prestasi ini dapat menjadi motivasi bagi seluruh murid untuk terus mengembangkan potensi diri serta dapat menginspirasi sekolah-sekolah lain untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan mencetak generasi penerus bangsa yang unggul dan berprestasi.
Sebagai informasi tambahan, SDN Palengaan Laok 1 juga merupakan Sekolah Adiwiyata Nasional sejak tahun 2023, sebuah penghargaan dari Pemerintah pusat atas kinerja luar biasa dalam menerapkan praktik ramah lingkungan dan mengintegrasikan pendidikan lingkungan ke dalam kurikulum.
Selain unggul dalam bidang akademik, sekolah tersebut juga aktif mengembangkan berbagai kegiatan ekstrakurikuler drumband Gita Puspita Utama, serta kegiatan seni dan sosial. Hal ini menjadi ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi kemampuan mereka di luar kegiatan belajar di kelas.
Senin, 17 Maret 2025
Membangun Sinergitas Untuk Pendidikan Berkualitas
Membangun
Sinergitas Untuk Pendidikan Berkualitas
Anak merupakan anugerah dan amanah dari Allah SWT yang harus disyukuri, dijaga, dibina, dan diurus secara seksama serta sempurna. Semua orang tua, apapun profesinya pasti menginginkan anaknya kelak menjadi generasi insan kamil, berguna bagi agama, bangsa dan negara. Secara khusus agar sang anak dapat menjadi penyejuk mata, pelipur lara orang tua dan menjadi kebanggaan ayah dan bunda serta keluarga dalam bingkai keshalehan yang dimiliki sang anak.
Semua
pengharapan positif pada anak tersebut tidaklah dapat terpenuhi tanpa
adanya usaha maksimal dari orang tua, berupa bimbingan yang memadai, selaras, dan seimbang dengan tuntunan dan
kebutuhan fitrah manusia secara kodrati. Oleh
karena itu, Orang tua dan keluarga mempunyai peranan penting dalam tumbuh kembang anak.
Karena keluarga merupakan pondasi petama dalam pembinaan dan pertumbuhan anak.
Untuk membimbing dan membina pertumbuhan anak, maka
seyogyanya sang anak dibekali dengan pendidikan. Dalam rangka memberikan
pendidikan pada anak, orang tua memasukkan anak ke sekolah atau pesantren untuk
dididik dan dibina agar mendapatkan pendidikan dan pengalaman sebagai bekal
dalam hidupnya. Dalam pendidikan sekolah sang anak telah diperkenalkan dengan
berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan keterampilan.
Saat sang anak mengenyam pendidikan sekolah, bukan
berarti tugas mendidik dari orang tua telah berpindah tangan pada guru yang ada
disekolah, tidak!. Hakikatnya tetap tanggung jawab dari orang tua. Sekolah
hanya membantu orang tua. Disamping karena kewajiban sebagai warga Negara untuk
memperoleh pendidikan yang baik, juga karena orang tua tidak bisa all out
mendidik anak, disebabkan orang tua harus bekerja untuk membiayai keluarganya dan
juga karena adanya kesibukan lain. Namun, sesibuk apapun orang tua tetap harus
menjalin komunikasi dan memberikan perhatian pada anak.
Saat anak mengenyam pendidikan di sekolah hendaknya
orang tua dan sekolah bisa membangun sinergi, bekerja sama untuk kualitas
pendidikan anak. Contoh kecil saja misalnya, ketika di sekolah mendorong anak untuk
melaksanakan shalat lengkap lima kali sehari semalam bagi anak yang muslim,
lantas ketika di rumah sang anak dibiarkan saja. Ketika sudah tiba waktu shalat
orang tuanya tidak mengingatkan dan memerintahkan anaknya untuk shalat, hingga
habis waktu shalat misalkan, sang anak tetap saja tidak shalat. Maka program
baik dari sekolah itu sudah tidak bisa
berjalan, pembinaan pendidikanpun pada anak sudah gagal.
Pembinaan moral dan pemahaman pelajaran harus selalu
mendapat perhatian dan dukungan dari orang tua di rumah, sebagus apapun
pembinaan pendidikan yang dijalankan sekolah jika pengawasan oleh keluarga
dirumah tidak ada dan dibiarkan, maka pembinaan pendidikan itu bisa dipastikan
tidak akan berjalan dengan baik. Dengan kata lain, Jika hanya sekolah yang
semangat dalam membina anak, tanpa ada dukungan dari orang tuanya dirumah maka
akan sangat sulit pembinaan pendidikan itu bisa berhasil.
Demikian halnya dengan sekolah, jangan tutup mata
terhadap persoalan yang terjadi pada anak, termasuk persoalan yang terjadi di rumah.
Jangan serta merta hanya menyalahkan anak ketika mendapati perilaku anak yang
menyimpang, tanpa melihat persoalan lain yang dialami anak, utamanya masalah di
rumah. Sebab banyak kebiasan anak yang terjadi di sekolah itu ada kaitannya
dengan kebiasaan yang ada dirumah.
Sehingga sangat perlu guru untuk melakukan home
visit ke rumah peserta didik. Selain menjalin silaturrrahim dengan wali murid
juga untuk mengorek informasi terkait ananda. Informasi yang diperoleh dari rumah
sangat mutlak diperlukan oleh pihak sekolah untuk perkembangan anak, termasuk
mencari solusi jitu pada persolan yang menimpa anak.
Jika home visit terasa berat, maka sekarang
sudah banyak sarana komonikasi yang bisa dipergunakan untuk mengabarkan dan
menanyakan kondisi anak ketika di rumah, ataupun sebaliknya ketika berada di
sekolah. Sehingga antara guru dan wali
murid terus terjalin komunikasi yang intens untuk kualitas pendidikan anak.
Terkait dengan hubungan antara sekolah/guru dengan
orang tua siswa telah tertuang dalam kode etik guru, pada pasal 6 nomor 2 butir
a disebutkan bahwa “Guru berusaha membina hubungan kerja sama yang efektif
dan efisien dengan orang tua/wali siswa dalam melaksanakan proses pendidikan”.
Sedandainya anak itu ibarat benda berat yang harus
dipikul, maka antara pemikul beban; guru dan orang tua haruslah kompak bersatu
padu agar beban itu menjadi ringan. Oleh karena itu, antara sekolah dan
keluarga/orang tua harus bisa membangun sinergi dan bersatu padu untuk memberikan
pendidikan dan pembinaan pada anak. Jadi, tidak seharusnya semua persoalan anak
dipasrahkan pada sekolah saja atau sebaliknya, tanpa ada support yang
bersinergi dari kedua belah pihak, keluarga dan sekolah. Jika salah satunya ada
yang timpang maka pembinaan moral dan cita-cita dari pendidikan akan sulit
tercapai.
* Tulisan ini sudah dimuat di Jawa Pos, Radar Madura
Jumat, 02 Desember 2022
Koneksi Antar Materi Modul 1.3
Filosofi Pendidikan Menurut KHD
Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak. Peran Pendidik diibaratkan seorang Petani atau Tukang Kebun yang tugasnya adalah merawat sesuai kebutuhan dari tanaman-tanamannya itu agar tumbuh dan berbuah dengan baik, tentu saja beda jenis tanaman beda perlakuanya. Artinya bahwa kita seorang pendidik harus bisa melayani segala bentuk kebutuhan metode belajar siswa yang berbeda-beda (berorientasi pada anak). Kita harus bisa memberikan kebebasan kepada anak untuk mengembangkan ide, berfikir kreatif, mengembangkan bakat/minat siswa (merdeka belajar), tapi kebebasan itu bukan berarti kebebasan mutlak, perlu tuntunan dan arahan dari guru supaya anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya.
KHD menjelaskan bahwa dasar Pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama. Artinya bahwa setiap anak sudah membawa sifat atau karakternya masing-masing, jadi sebagai guru kita tidak bisa menghapus sifat dasar tadi, yang bisa dilakukan adalah menunjukan dan membimbing mereka agar muncul sifat-sifat baiknya sehingga menutupi/mengaburkan sifat-sifat jeleknya. Kodrat zaman bisa diartikan bahwa kita sebagai guru harus membekali keterampilan kepada siswa sesuai zamannya agar mereka bisa hidup, berkarya dan menyesuaikan diri. Dalam konteks pembelajaran Kalau sekarang ya kita harus bekali siswa dengan kecakapan Abad 21. Budi pekerti juga harus menjadi bagian tak terpisahkan dari pendidikan dan pengajaran yang kita lakukan sebagai guru. Guru harus senantiasa memberikan teladan yang baik bagi siswa-siswanya dalam mengembangkan budi pekerti. Di Sekolah kita bisa tanamkan nilai-nilai budi pekerti/akhlak mulia pada anak melalui kegiatan pembiasaan.
NILAI DIRI DAN PERAN GURU PENGGERAK
Nilai diri yang diharapkan ada pada Guru Penggerak adalah Mandiri, Reflektif, Inovatif, Kolaboratif, dan Berpihak Pada Murid.
Sedangkan peran dari seorang guru penggerak adalah sebagai pemimpin perubahan baik di kelas, sekolah, atau komunitas lainnya yang berhubungan. Mampu menggerakan orang lain.
VISI GURU PENGGERAK
Visi adalah tujuan, harapan atau cita-cita yang ingin dicapai. Seorang guru penggerak harus bisa merumuskan dan membuat VISI yang berpihak pada murid untuk mewujudkan murid merdeka, lingkungan yang aman dan nyaman untuk muridnya di sekolah. Seorang guru penggerak harus bisa melibatkan semua warga sekolah dan pemangku kepentingan dalam menyusun visinya serta melaksanakannya secara bersama-sama. Kemudian melakukan evaluasi bersama juga.
Sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara hendaknya kita dalam membuat visi berpijak pada kekuatan dan hal-hal positif yang ada pada anak sesuai kodrat alam dan zamannya. Juga sesuai dengan kondisi lingkungan yang ada. Salah satu hal mendasar dalam sebuah visi adalah perubahan.
Salah satu pendekatan untuk melakukan perubahan bisa kita capai menggunakan paradigma Inkuiri Apresiatif (IA). IA dikenal sebagai model manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. IA pertama kali dikembangkan oleh David Cooperrider.
5 Tahapan Inkuri Apresiatif kita kenal dengan sebutan BAGJA, BAGJA adalah akronim dari Buat Pertanyaan Utama (Define), Ambil Pelajaran (Discover), Gali Mimpi (Dream), Jabarkan Rencana (Design), dan Atur Eksekusi (Deliver).
Visi saya adalah : Terwujudnya Generasi yang Berahlak Mulia dan Berprestasi Optimal.
Selasa, 15 November 2022
Demonstrasi Kontekstual - Modul 3.3 - Pengelolaan Pragram yang Berdampak Positif Pada Murid
Demonstrasi Kontekstual - Modul 3.3
Pengelolaan Pragram yang Berdampak Positif Pada Murid
Oleh : Moh. Dasuki, S.Pd.I
Tujuan
Pembelajaran Khusus: CGP dapat mengembangkan ide dari ruang kolaborasi menjadi
sebuah prakarsa perubahan dalam bentuk rencana program/kegiatan yang
memanfaatkan model manajemen perubahan BAGJA.
Beriman, bertakwa dan berakhlak mulia. Menumbuh kembangkan kepemimpinan murid akan mendorong murid untuk mengembangkan berbagai sikap- sikap positif yang merupakan pengejawantahan dari iman, ketakwaan dan akhlak mulia.
Mampu bergotong royong. Kepemimpinan murid memungkinkan murid untuk terlibat dan berinteraksi dengan oranglain, bekerja sama dan berkontribusi dalam masyarakat yang lebih luas.
KARAKTERISTIK LINGKUNGAN PENDUKUNG TUMBUHNYA KEPEMIMPINAN MURID YANG AKAN DIKEMBANGKAN
Lingkungan yang mengembangkan keterampilan berinterkasi social secara positif, arif dan bijaksana, dimana murid akan menjunjung tinggi nilai- nilai social positif yang berbasis pada nilai- nilai kebajikan yang dibangun oleh sekolah.
PRAKARSA PERUBAHAN
Menguatkan interaksi social antara murid dan lingkungannya secara positif, arif dan bijaksana melalui program "TUBERLING" (Sabtu Bersih Lingkungan)
Selasa, 08 November 2022
Koneksi Antar Materi Modul 3.2 - Peminpin Dalam Pengelolaan Sumeber Daya
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.2
PEMINPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA
Ekosistem
adalah keadaan khusus tempat komunitas suatu organisme hidup dan komponen
organisme tidak hidup dari suatu lingkungan yang saling berinteraksi. Konsep
ekosistem ini sering dibicarakan di Biologi, ekosistem berkaitan dengan
ekosistem laut, ekosistem di padang pasir, ekosistem di stepa. Ekosistem adalah
keadaan khusus tempat komunitas yang biotik dan abiotik yang saling
berinteraksi, berkesinambungan. Masing-masing komponen dalam suatu
ekosistem berkontribusi dalam interaksi yang erat untuk menyediakan bahan yang
diperlukan untuk kelangsungan hidup mereka. Mulai dari cahaya matahari, air,
hewan, tumbuhan, dan sumber energi lainnya semuanya memberikan kontribusi
terhadap ekosistem. Konsep ekosistem sekarang ini maknanya menjadi lebih lua.
Sebuah organisasi atau komunitas sekarang disebut sebagai ekosistem.
Ekosistem
di sekolah meliputi sumber daya biotik dan abiotik. Faktor-faktor biotik yang
ada di ekosistem sekolah sebagai berikut: (1) murid, (2) kepala sekolah, (3)
guru, (4) staf tata usaha/tenaga kependidikan, (5) pengawas sekolah, (6) orang
tua peserta didik; dan (7) masyarakat sekitar sekolah. Selain faktor-faktor
biotik, ada juga faktor-faktor abiotik juga memiliki kontribusi untuk
kelangsungan proses pendidikan di sekolah, adalah :(1) keuangan; (2) sarana dan
prasarana sekolah.
(1)
Pendekatan berbasis masalah/ kekurangan (deficit based thingking), dimana
pendekatan ini berfokus dan berkutat pada masalah utama dan isu,
mengidentifikasi kebutuhan dan kekurangan, fokus mencari bantuan dari orang
lain, dan fokus membicarakan kelemahan. Pendekatan ini memilki kelemahan, kita
tidak menyadari adanya potensi atau kekuatan yang dimiliki karena berpusat pada
kelemahan dan kekurangan.
(2)
Pendekatan berbasis kekuatan/aset (asset based thingking), pendekatan ini
berfokus pada asset dan kekuatan, membayangkan masa depan, berpikir tentang
kesuksesan yang diraih dan kekuatan untuk mencapai kesuksesan tersebut,
mengkoordinir kompetensi yang di miliki dan sumber daya (aset dan kekuatan),
merancang dan melaksanakan rancangan aksi yang sudah diprogramkan sesuai
berdasarkan visi dan kekuatan, dilakukan dengan alur BAGJA.
Modul 1.2
Jumat, 04 November 2022
Demonstrasi Kontekstual - Modul 3.2 Calon Guru Penggerak Angkatan 5
Demonstrasi Kontekstual - Modul 3.2
Setelah saya menonton video yang ada di
Demontrasi Kontekstual Modul 3.2 di LMS Pendidikan Calon Guru Penggerak, dapat membuat narasi sebagai berikut:
Pada video
tersebut diawali dengan anak-anak yang bermain dengan permainan-permainan
tradisioanl. Dari raut wajah mereka terpancar rasa riang dan gembira, ada yang
asyik berlari sambil tertawa dan ada pula yang locat dan ada yang duduk-duduk
sesuai dengan permainan yang mereka kerjakan.
Oleh karena itu saya memberikan asumsi bahwa visi
dari sekolah terebut adalah “Menjadi
sekolah Nyaman dan Menyenangkan Berlandaskan Kearifan Lokal Demi Terwujudnya
Profil Pelajar pancasila”
Selanjutnya video itu beralih kepada ruang kelas,
pada waktu itu gurunya sedang menggali pendapat dari siswa mengenai topik “Penyemangat
Belajar”, kalimat ini di tulis di papan tulis oleh Bu Guru.
Siswa secara bergantian menjawab tentang persepsi
mereka mengenai hal yang bisa membuat mereka semangat dan senang belajar
utamanya belajar di dalam kelas itu. Ada yang menjawab mereka senang belajar di
kelas ketika duduk di rak buku, dan banyak lagi jawaban yang lain.
Dari dialog yang di sampaikan oleh Bu Guru itu Prakarsa perubahan yang akan dilakukan oleh
dia adalah mewujudkan kelas yang nyaman
dan menyenangkan untuk belajar.
Inti pertanyaan dari semua kegiatan yang
dilakukan oleh ibu Guru itu adalah Bagaimana cara mewujudkan kelas yang nyaman
dan menyenangkan untuk belajar? Hal, ini terbukti dari kegiatan yang dilakukan
oelh Gur tersebut bersama siswanya.
Kegiatan-kegiatan dalam videoa tersebut yang
menggambarkan tahapan BAGJA adalah :
B (Buat Rencana) : merencanakan konsep yang bisa membuat siswa semangat
dalam belajar di kelas
A (Ambil Pelajaran) : Melihat Kelas lain yang disukai yang bisa
membuat semangat belajar
G (Gali Mimpi) : Siswa membayangkan kelas yang nayaman dan
menyenangkan lalu di tuangkan dalam bentuk gamabar dan di presentasikan di
kelas.
J (Jabarkan) : Menjabarkan kelas impian murid
A (Atur & Eksekusi) menentukan rencana aksi membuat kelas
impian di mulai pada hari sabtu dan minggu.
Dalam videoa itu juga nampak tentang peran peminpin sebagai Manajer, yang bisa menggerakkan komunitas kelas untuk memperindah kelas berdasarkan aset yang dimiliki
Sabtu, 29 Oktober 2022
Koneksi Antar Materi Modul 3.1: Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran
Koneksi Antar Materi Modul 3.1:
Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin
Pembelajaran
Oleh : Moh. Dasuki, S.Pd.I
CGP Angkatan 5
1. Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap
Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan
sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?
Menurut Ki Hajar Dewantara tujuan pendidikan
adalah proses menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat
mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai
manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
KHD berpandangan, seorang pendidik hanya dapat
menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar
mereka dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan
kodrat anak, serta memiliki kemampuan dalam menyelesaikan atau mengambil
keputusan terhadap permasalahannya secara mandiri. Guru hanya mengarahkan
bagaimana murid berkembang sesuai karakter, keunikan serta memaksimalkan segala
potensi yang dimilikinya.
Filosofi
Pratap Triloka khususnya ing ngarso sung tuladha memberikan pengaruh yang besar
dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. KHD berpandangan bahwa
sebagai seorang guru, itu harus memberikan tauladan atau contoh praktik baik
kepada murid. Dalam setiap pengambilan keputusan, seorang guru harus memberikan
karsa atau usaha keras sebagai wujud filosofi Pratap Triloka ing madyo mangun
karsa dan pada akhirnya guru membantu murid untuk dapat menyelesaikan atau
mengambil keputusan terhadap permasalahannya secara mandiri. Guru hanya sebagai
pamong yang mengarahkan murid menuju kebahagiaan. Hal ini sesuai dengan
filosofi Pratap Triloka Tut Wuri Handayani.
2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada
prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Disadari atau tidak setiap individu termasuk
juga guru memiliki nilai-nilai kebajikan yang sudah tertanam dalam dirinya.
Nilai-nilai yang sifatnya berupa kebajikan universal meliputi hal-hal seperti
keadilan, tanggung jawab, kejujuran, bersyukur, lurus hati, berprinsip,
integritas, kasih sayang, rajin, komitmen, percaya diri, kesabaran, dan masih
banyak lagi.
Nilai-nilai positif yang tertanam kuat dalam
diri kita penting untuk dipupuk karena keputusan-keputusan yang diambil oleh
seseorang akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh orang
tersebut. Dengan nilai-nilai yang dimilikinya seorang guru hendaknya menjadi
rujukan atau teladan baik bagi murid maupun seluruh warga sekolah.
Dalam kesehariannya menjalankan tugas, tidak
jarang seorang guru berada dalam posisi yang menuntutnya untuk mengambil
keputusan dari dua pilihan yang secara logika dan rasa keduanya benar, berada
pada situasi dilema etika (benar vs benar) atau berada dalam dua pilihan antara
benar melawan salah (bujukan moral) yang menuntut kita berpikir secara seksama
untuk mengambil keputusan yang tepat. Maka di sinilah nilai-nilai yang akan
membimbing dan mendorong kita untuk mengambil keputusan yang tepat dan
bijaksana. Dalam pengambilan keputusan yang terbaik bagi kepentingan murid,
seorang guru akan mempertimbangkan nilai-nilai kebajikan universal yang
disepakati dan disetujui bersama.
Nilai-nilai
yang akan membimbing dan mendorong pendidik untuk mengambil keputusan yang
tepat dan benar. Nilai-nilai positif tersebut seperti mandiri, reflektif,
kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid. Nilai-nilai tersebut
merupakan prinsip yang dipegang teguh ketika kita berada dalam posisi yang
menuntut kita untuk mengambil keputusan dari dua pilihan yang secara logika dan
rasa keduanya benar, berada situasi dilema etika (benar vs benar) atau berada
dalam dua pilihan antara benar melawan salah (bujukan moral) yang menuntut kita
berpikir secara seksama untuk mengambil keputusan yang benar.
Keputusan
tepat yang diambil tersebut merupakan buah dari nilai-nilai positif yang
dipegang teguh dan dijalankan oleh kita. Nilai-nilai positif akan mengarahkan
kita mengambil keputusan dengan resiko yang sekecil-kecilnya. Keputusan yang
mampu memunculkan kepentingan dan keberpihakan pada peserta didik.
Nilai-nilai
positif mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif serta berpihak pada murid
adalah manifestasi dari pengimplementasian kompetensi social emosional
kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran social dan keterampilan
berinteraksi social dalam mengambil keputusan secara berkesadaran penuh untuk
meminimalisir kesalahan dan konsekuensi yang akan terjadi.
3. Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan
keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan
pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama
dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan
keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri
kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu
oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.
Coaching
adalah ketrampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang
sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki
orang lain. Dengan langkah coaching TIRTA, kita dapat mengidentifikasi masalah
apa yang sebenarnya terjadi dan membuat pemecahan masalah secara sistematis.
Konsep coaching TIRTA sangat ideal apaila dikombinasikan dengan sembilan
langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap
keputusan yang kita ambil.
Coaching menjadi proses yang sangat penting
dilakukan di sekolah, karena guru dalam hal ini sebagai coach akan menggali
potensi yang dimiliki oleh muridnya dengan memberi pertanyaan pemantik sehingga
murid dapat menemukan potensi yang terpendam dalam dirinya untuk dapat
menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapinya tanpa paksaan dan
campur tangan orang lain, serta mampu mengambil keputusan yang tepat dengan
resiko yang paling kecil.
Pembimbingan
yang telah dilakukan oleh pendamping praktik dan fasilitator telah membantu
saya berlatih mengevaluasi keputusan yang telah saya ambil. Apakah keputusan
tersebut sudah berpihak kepada murid, sudah sejalan dengan nilai-nilai
kebajikan universal dan apakah keputusan yang saya ambil tersebut akan dapat
saya pertanggung jawabkan.
TIRTA merupakan model coaching yang dikembangkan
dengan semangat merdeka belajar. Model TIRTA menuntut guru untuk memiliki
keterampilan coaching. Hal ini penting mengingat tujuan coaching, yaitu untuk
melejitkan potensi murid agar menjadi lebih merdeka. TIRTA adalah
satu model coaching yang diperkenalkan dalam Program Pendidikan Guru Penggerak
saat ini. TIRTA dikembangkan dari Model GROW. GROW adalah
akronim dari Goal, Reality, Options dan Will.
Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang
hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini,
Reality (Hal-hal yang nyata): proses
menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee,
Options (Pilihan): coach membantu coachee
dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan
dijadikan sebuah rancangan aksi.
Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam
membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.
TIRTA akronim dari :
T : Tujuan
I : Identifikasi
R : Rencana aksi
TA: Tanggung jawab
4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial
emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?
Seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran di
kelas sudah seyogyanya harus bisa mengetahui dan memahami kondisi sosial dan
emosional dari muridnya. Selain itu untuk dapat membentuk dan mewujudkan Profil
Pelajar Pancasila, seorang murid harus mampu menyelesaikan permasalahannya
dalam belajar sehingga tidak menjadi dilema bagi mereka untuk sekarang maupun
yang akan datang. Guru juga penting untuk memahami aspek sosial dan
emosionalnya agar mereka mampu mengambil keputusan yang tepat dan bijaksana
dalam menyelesaikan persoalan pembelajaran baik di kelas maupun di lingkungan
sekolah.
Sebagai seorang
pendidik, kita harus mampu menjembatani perbedaan minat dan gaya belajar murid
di kelas sehingga dalam proses pembelajaran murid mendapatkan pembelajaran yang
menyenangkan dan sesuai profil belajar mereka masing-masing. Untuk itu
diperlukan pengambilan keputusan yang tepat agar seluruh kepentingan murid
dapat terakomodir dengan baik. Kompetensi sosial dan emosional diperlukan agar
guru dapat fokus memberikan pembelajaran dan dapat mengambil keputusan dengan
tepat dan bijak sehingga dapat mewujudkan merdeka belajar di kelas maupun di
sekolah.
5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus
pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang
pendidik.
Keberpihakan dan
mengutamakan kepentingan murid dapat tercipta dari tangan pendidik yang mampu
membuat solusi tepat dari setiap permasalahan yang terjadi. Pendidik yang mampu
melihat permasalahan dari berbagai kaca mata dan pendidik yang dengan tepat
mampu membedakan apakah permasalahan yang dihadapi termasuk dilema etika
ataukah bujukan moral.
Seorang pendidik
ketika dihadapkan dengan kasus-kasus yang fokus terhadap masalah moral dan
etika, baik secara sadar atau pun tidak akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang
dianutnya. Nilai-nilai yang dianutnya akan mempengaruhi dirinya dalam mengambil
sebuah keputusan. Jika nilai-nilai yang dianutnya nilai-nilai positif maka
keputusan yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggung jawabkan dan
begitupun sebaliknya jika nilai-nilai yang dianutnya tidak sesuai dengan kaidah
moral, agama dan norma maka keputusan yang diambilnya lebih cenderung hanya
benar secara pribadi dan tidak sesuai harapan kebanyakan pihak.Kita tahu bahwa
Nilai-nilai yang dianut oleh Guru Penggerak adalah reflektif, mandiri,
inovatif, kolaboratif dan berpihak pada anak didik. Nilai-nilai tersebut akan
mendorong guru untuk menentukan keputusan masalah moral atau etika yang tepat
sasaran, benar dan meminimalisir kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan
yang dapat merugikan semua pihak khususnya peserta didik.
6. Bagaimana
pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya
lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Pengambilan keputusan
yang tepat tekait kasus-kasus pada masalah moral atau etika hanya dapat dicapai
jika dilakukan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dapat
dipastikan bahwa jika pengambilan keputusan dilakukan secara akurat melalui
proses analisis kasus yang cermat dan sesuai dengan 9 langkah tersebut, maka
keputusan tersebut diyakini akan mampu mengakomodasi semua kepentingan dari
pihak-pihak yang terlibat , maka hal tersebut akan berdampak pada terciptanya
lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
7.
Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit
dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus
dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di
lingkungan Anda?
Jawaban saya yaitu
iya, kesulitan muncul karena masalah perubahan paradigma dan budaya sekolah
yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Diantaranya adalah sistem yang
kadang jika memaksa guru untuk memilih pilihan yang salah atau kurang tepat dan
tidak berpihak kepada murid. Yang kedua tidak semua warga sekolah berkomitmen
tinggi untuk menjalankan keputusan Bersama. Yang ketiga keputusan yang diambil
kadang kala tanpa sepenuhnya melibatkan guru sehingga muncul banyak
kendala-kendala dalam proses pelaksanaan pengambilan keputusan.
8. Dan pada
akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan
pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?
Menurut pendapat saya,
semua tergantung kepada keputusan seperti apa yang diambil, apabila keputusan
tersebut sudah berpihak kepada murid dalam hal ini tentang metode yang
digunakan oleh guru, media dan sistem penilaian yang dilakukan yang sudah
sesuai dengan kebutuhan murid, maka hal ini akan dapat memerdekakan murid dalam
belajar dan pada akhirnya murid dapat berkembang sesuai dengan potensi dan
kodratnya. Namun sebaliknya apabila keputusan tersebut tidak berpihak kepada
murid, dalam hal metode, media, penilaian dan lain sebagainya maka kemerdekaan
belajar murid hanya sebuah omong kosong belaka dan tentunya murid tidak akan
dapat berkembang sesuai potensi dan kondratnya.
9. Bagaimana
seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi
kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Ketika guru sebagai
pemimpin pembelajaran melakukan pengambilan keputusan yang memerdekakan dan
berpihak pada murid, maka dapat dipastikan murid-muridnya akan belajar menjadi
oang-orang yang merdeka, kreatif , inovatif dalam mengambil keputusan yang
menentukan bagi masa depan mereka sendiri. Di masa depan mereka akan tumbuh
menjadi pribadi-pribadi yang matang, penuh pertimbangan dan cermat dalam
mengambil keputusan-keputusan penting bagi kehidupan dan pekerjaannya.
Keputusan yang diambil
oleh seorang guru akan menjadi ibarat pisau yang disatu sisi apabila digunakan
dengan baik akan membawa kesuksesan dalam kehidupan murid di masa yang akan
dating. Demikian sebaliknya apabila kebutuhan tersebut tidak diambil dengan
bijaksana maka bisa jadi berdampak sangat buruk bagi masa depan murid-murid.
Keputusan yang berpihak kepada murid haruslah melalui pertimbangan yang sangat
akurat dimana dilakukan terlebih dahulu pemetaan terhadap minat belajar, profil
belajar dan kesiapan belajar murid untuk kemudian dilakukan pembelajaran
berdiferensiasi yaitu melakukan diferensiasi konten, diferensiasi proses dan
diferensiasi produk.
10. Apakah
kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan
keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Pembelajaran dan pengalaman yang saya peroleh
dari mempelajari modul 3.1 terkait Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin
Pembelajaran adalah bahwa seorang pendidik merupakan pilar utama dalam dunia
pendidikan yang berinteraksi langsung dengan murid sehingga sering diperhadapkan
oleh situasi dan problematika yang mengharuskan dilakukannya pengambilan
keputusan. Tentunya harapan dari pengambilan keputusan yang dilakukan ini
bukanlah suatu keputusan gegabah dan terburu-buru, yang kemudian tidak
mempertimbangkan konsekuensi dan situasi tak terduga lainnya di masa depan
serta mencederai pihak lainnya. Pengambilan keputusan yang dilakukan merupakan
rangkaian proses yang harus dilakukan dengan penuh cermat dan
kehati-hatian dalam menentukan sikap dan langkah tindakan dari berbagai
kemungkinan situasi yang ada.
Kesimplan yang didapat
dari pembelajaran modul ini yang dikaitkan dengan modul-modul sebelumnya adalah
:
Pengambilan keputusan
adalah suatu kompetensi atau skill yang harus dimiiki oleh guru dan harus berlandaskan
kepada filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin
pembelajaran.
Pengambilan keputusan
harus berdasarkan pada budaya positif dan menggunakan alur BAGJA yang akan
mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well
being).
Dalam pengambilan
keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfullness)
untuk menghantarkan muridnya menuju profil pelajar pancasila.
Dalam perjalanannya
menuju profil pelajar pancasila, ada banyak dilema etika dan bujukan moral
sehingga diperlukan panduan sembilan langkah pengambilan dan pengujian
keputusan untuk memutuskan dan memecahkan suatu masalah agar keputusan tersebut
berpihak kepada murid demi terwujudnya merdeka belajar.
Sabtu, 22 Oktober 2022
Demontrasi Kontekstual - Modul 3.1 - Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran
Demontrasi Kontekstual - Modul 3.1 - Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran
Oleh; Moh. Dasuki, S.Pd.I
CGP Angkatan 5
Sebagai seorang pemimpin pembelajaran,
Anda pasti sering dihadapkan dalam situasi di mana Anda diharuskan mengambil
suatu keputusan. Namun, seberapa sering keputusan tersebut melibatkan
kepentingan dari masing-masing pihak yang sama-sama benar, tapi saling
bertentangan satu dengan yang lain?
Oleh Karena itu, Dalam kegiatan ini, Saya mewawancarai dua orang nara sumber yaitu kepala sekolah saya yakni Achmad Fauzi, S.Pd. SD selaku kepala sekolah SD Negeri Dempo Barat 2 Pasean – Pamekasan, dan Mantan Guru di sekolah Kami yakni Bapak Miswar, S.Pd. yang saat ini menjabat sebagai kepala sekolah SD Negeri Dempo Timur 2 Pasean - Pamekasan.
Dalam sesi wawancara terhadap kedua narasumber tersebut, saya mengajukan beberapa pertanyaan berdasarkan dengan pedoman yang ada di LMS, Cuma saya rangkum menjadi 5 poin pertanyaan saja, dengan tidak menguraangi substansi dari pertanyaan yang ada di LMS, pertanyaan tersebut ialah;
1. Selama Bapak/Ibu memimpin, bagaimana cara
Bapak/Ibu dalam mengidentifikasi kasus-kasus yang terjadi di sekolah? Seperti
kasus dilema etika atau bujukan moral?
2. Selama Bapak/Ibu memimpin, bagaimana cara
Bapak/Ibu dalam menjalankan pengambilan keputusan di sekolah, terutama pada
kasus-kasus yang mengandung dua kepentingan yang sama-sama benar atau sama-sama
mengandung nilai kebajikan?
3. Langkah-langkah atau prosedur seperti apa yang
selama ini Bapak/Ibu lakukan dalam pengambilan keputusan?
4. Hal-hal seperti apa yang selama ini Ibu anggap
efektif dalam pengambilan keputusan pada kasus-kasus dilema etika?
5. Hal-hal apa saja yang selama ini merupakan
tantangan dalam pengambilan keputusan pada kasus-kasus dilema etika?
Hasil Wawancara
Pada sesi wawancara pertama dengan Bapak Fauzi, S.Pd.SD
Selama Bapak Achmad Fauzi mempimpin cara beliau dalam mengidentifikasi kasus-kasus yang terjadi di sekolah, biasanya beliau akan mencari tahu dan melakukan pengamatan terlebih dahulu, apakah kaus tersebut ada yang melanggar hukum atau tidak.
Selanjutnya, apabila terjadi kasus-kasus yang mengandung dua
kepentingan yang sama-sama benar cara yang diambil Bapak Achmad Fauzi dalam menjalankan
keputusannya adalah beliau akan mengambil keputusan yang tidak merugikan pihak
sekolah dan juga pihak yang bermasalah, dengan cara mencari jalan keluar
bersama dengan melakukan musyawarah dan pendekatan komunikasi.
Biasanya Bapak Achmad Fauzi
mengambil langkah-langkah dalam memutuskan suatu masalah adalah dengan
menganalisis penyebab permasalahan, menentukan siapa yang terlibat, menanyakan
kepada orang-orang terdekatnya, berdiskusi dengan warga sekolah, membuat
beberapa solusi keputusan, menimbang lagi dari berbagai sudut pandang sebelum
memutuskan/ mengambil solusi.
Adapun hal-hal yang Pak Fauzi anggap efektif dalam pengambilan keputusan adalah dengan melakukan analisis kasus kemudian menentukan solusinya menyesuaikan dengan peraturan dan norma yang berlaku, serta mengedepankan kepentingan sekolah dan umum ( solusi tersebut bermanfaat bagi orang banyak dan baik secara jangka panjang)
Sedangkan tantangan yang dihadapi beliau ketika memutuskan sebuah persoalan adalah bagaimana keputusan yang diambil bisa memuaskan semua pihak, tanpa ada yang merasa di rugikan atau sakit hati. Agar sama-sam enak dan terjadi hubungan yang baik.
Pada sesi wawancara kedua dengan Bapak Miswar, S.Pd.
Tantangan Pak Miswar dalam mengambil keputusan adalah, bagaimana dia bisa bersikap adil dan netral tanpa harus ada keberpihakan pada salah satunya.
Analisis hasil wawancara
Berdasarkan 2 (dua) narasumber yang saya wawancarai,
sejatinya dalam pengambilan keputusan diperlukan banyak
pertimbangan-pertimbangan yang perlu dilakukan. Kedua narasumber mengatakan
untuk mengidentifikasi suatu kasus itu termasuk ke dalam dilema etika atau
bujukan moral maka diperlukan observasi lingkungan misalnya jika itu terkait
antara satu individu dengan individu lain maka sebagai pemimpin perlu adanya
melihat karakter pribadi individu-individu tersebut kemudian mendengar
permasalahan dari kedua pihak secara langsung setelah itu mendengar pula saksi
dari kedua pihak. Setelah dapat mengidentifkasi kasus tersebut maka langkah
selanjutnya yang diambil adalah mengajak diskusi semua pihak yang terlibat.
Jadi selama pengambilan keputusan, hal-hal yang perlu
dilakukan adalah :
Mengidentifikasi kasus (melihat dan mendengar situasi
lingkungan sekitar)
Melakukan pendekatan personal
Mengajak diskusi bersama
Mendengarkan semua permasalahan dari pihak-pihak yang
terlibat
Mengambil keputusan bukan untuk kepentingan pribadi
Waktu pengambilan keputusan dilakukan se-segera
mungkin, tidak menunda-nunda sehingga masalah menjadi rumit dan besar
Kesimpulan : Sebagai pimpinan tidak boleh mengambil keputusan sepihak apalagi terburu-buru, selalu perhatikan identifikasi masalahnya terlebih dahulu. Jangan lupakan libatkan semua stakeholder terkait apapun dan bagaimanapun situasinya. Berada di posisi sebagai pemimpin dalam suatu instansi mengharuskan belajar untuk mendengar dan melihat dari segala sudut pandang tanpa memberatkan di satu pihak saja

.png)